US Navy Seal


Cerita ketrengginasan sosok yang pernah di perankan oleh Charlie Sheen di film Hollywood Navy Seal(1990), dari sinilah awalnya.
Mulanya pelatihan dibuka untuk semua personel aktif. mulai dari yang berdinas di fleet, service school dan boot camp. Lolos dari serangan pertama, siswa digiring ke tahap pra kondisi dan indoktrinasi total 2 minggu. selanjutnya pemusatan latihan dilakukan di BUD/S, yang terdiri dari 3 fase.


Fase pertama basic conditioning. Dalam pendidikan selama 8 minggu ini, materi utama adalah pembinaan fisik dan mental. seperti lari tiap akhir minggu dengan sepatu boot sejauh empat mil, lari halang rintang, dan renang laut 2 mil. Perahu kecil yang jadi kendaraan air pasukan yang pernah mendapat Men with gree face dalam perang Vietnam ini.

Empat minggu pertama ini baru permulaan. mereka sesungguhnya disiapkan memasuki minggu kelima alias Hell week. Fisik dan mental mereka dibantai, jam tidur tak lebih dari empat jam, apa tjuannya? Hanya membuktikan bahwa manusia mampu melakukan 10 kali lebih banyak pekerjaan dari yang mereka pikirkan. Jika tak sanggup silahkan pukul lonceng. Namun untuk tujuan akhir adalah team work.

Menginjak fase kedua, diving. Fase ini ditempatkan di combat SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus) Ada dua tipe scuba : sirkuit terbuka (Compressed air) dan sirkuit tertutup (100 persen oksigen). Pelatihan 7 minggu ini ditujukan untuk memperkenalkan kemampuan pertempuran bawah air (Combat diver) yang jadi andalan SEAL.

Tahapan berakhir pada fase terakhir dengan materi land warface. Materi berkisar pada demolition. reconnaissence serta weapon and tactics. Tekanan fisik semakin berat dan pencapaian minimum ditekankan untuk lari, renang dan halang rintang. Konsentrasi diberikan untuk mempelajari navigasi darat, taktis unit kecil, rappelling, kendaraan militer dan peledakan bawah air, serta latihan pemakaian senjata.
Fase ini ditutup dipulau San Clement, California. Ditempat ini, latihan lebih diarahkan mendekati kenyataan dan kesempatan siswa mempraktekan teori yang sudah diterimanya selama 15 minggu.

Penderitaan belum berakhir bagi siswa. Tiga minggu berikutnya mereka dikirim ke Army Airbone School di Fort Benning, Georgia. Apalagi kalau bukan mendalami dasar-dasar terjun payung militer. Personel yang dinyatakan lulus, meneruskan ke Special Operation Technicians Training di NSCW.
Tak melulu dar der dor, mereka juga diikutkan pelatihan kesehatan khusus selam.Ditotal dengan lain-lainnya, ada 30 minggu pelatihan diberikan kepada calon anggota SEAL.

Setelah diterima dan melewati masa percobaan enam bulan, personel yang diterima dianugerahi SEAL NEC (Naval Enlisted Classification) Code dan lencana Naval Special Warfare. Personel baru ini masih harus melewati 2-3 tahun di SDV (SEAL Delivery Vehicle) atau SEAL Team. tahap selanjutnya mereka masih mengikuti pelatihan tambahan, hingga merampungkan penugasan 5 tahun didarat.

Kursus tingkat lanjut bisa berupa sniper, supervisor selam, latihan bahasa, dan komunikasi taktis SEAL. Dengan tugas berat menghadang dimata, betulkah mereka mendapat tunjangan yang menggiurkan ? silahkan hitung sendiri tunjangan yang mereka terima perbulan : tunjangan selam $175, tunjangan SDV $200, tunjangan HALO $165, dan tunjangan tugas khusus $110 total mereka terima diluar gaji $650

mengenal sosok prabowo subiyakto


Profil Prabowo Subiyanto:
Bintang yang Naik Pesat
PRABOWO dilahirkan di Jakarta, 17 Oktober 1951, sebagai anak ketiga dari keluarga Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Di tengah keluarga yang lebih lekat dengan citra sebagai intelektual itu, Prabowo Subianto adalah satu-satunya yang berkarier di lingkungan militer. Karier itu dimulainya tahun 1970, ketika Prabowo masuk AMN setelah lulus SMA. Tampaknya pilihan itu bukan asal pilih, karena pada saat yang sama sebetulnya ia juga diterima di fakultas ekonomi di tiga perguruan tinggi terkemuka di Amerika.

Lulus AMN 1974, Prabowo langsung bertugas di lingkungan pasukan baret merah yang sekarang dipimpinnya itu.

Setelah lulus AMN itu masa tugasnya lebih banyak dilalui di lingkungan pasukan tempur. Dengan pangkat Letnan Dua, pada tahun 1976 ia menjadi Komandan Peleton Grup I Kopasandha (nama lama Kopassus). Setahun kemudian, naik menjadi Komandan Kompi di lingkungan Grup I kesatuan yang sama, Kompi Nanggala 28, sampai tahun 1980. Karena tugasnya di lingkungan pasukan tempur inilah kemudian Prabowo termasuk tentara yang punya banyak pengalaman tempur di zaman yang relatif damai ini. Pada tahun 1979, misalnya, ketika berpangkat Letnan Satu dengan jabatan Komandan Kompi, bersama beberapa anak buahnya Prabowo pernah bekerja sama dengan beberapa anggota Batalyon 744. Dalam operasi itu pasukannya berhasil menewaskan Presiden dan Menteri Pertahanan Fretilin Nicolao Dos Reis Labato di Timor Timor.

Dalam tahun 1980, jabatannya naik lagi menjadi Perwira Operasi di Grup I. Jabatan ini diembannya sampai tahun 1983. Dalam jabatannya ini, pada tahun 1983, sekitar 4 bulan setelah pesta perkawinannya dengan putri keempat Presiden Soeharto, Siti Hediati Harijadi, kembali ia bertugas mengepung Fretilin. Pada kesempatan ini ada sebuah pengalaman yang tampaknya sulit dilupakan oleh siapa pun yang mengalaminya. Pada tugas operasi itu ia sempat terkepung oleh pasukan Fretilin. Kabarnya, di sinilah ketrampilannya sebagai prajurit pernah ditunjukkan. Ketika terkepung di medan yang banyak ilalang, dan kemudian Fretilin membakarnya, ia sempat menyelamatkan diri dengan cara masuk ke sebuah lubang. Seharian ia tak menampakkan diri.

Setelah itu kembali Prabowo mendapat promosi. Sampai tahun 1985, ia memimpin Detasemen 81, di kesatuan baret merah, dengan jabatan Wakil Komandan.

Prabowo juga pernah bertugas di kesatuan lain. Setelah jabatan yang disebutkan terakhir ini, tugas berikutnya adalah di lingkungan Kostrad, pasukan baret hijau. Kurang lebih 8 tahun ia bertugas di kesatuan ini, tahun 1985 - 1987, sebagai Wakil Komandan Batalyon 328. Kemudian menjadi Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 17 (1987 - 1991), dan Kepala Staf Brigade Infanteri 17 (1991 - 1993).

Seusai tugas ini, masih dalam tahun 1993, kembali ia ditugaskan di Kopassus, dengan jabatan Pejabat Sementara Komandan Grup III Pusdik Kopassus, dan tak lama kemudian menjadi Komandan Grup. Tahun 1994, kembali ia dipromosikan untuk mendampingi Subagyo Hari Siswoyo (Komandan Kopassus) sebagai Wakil Komandan. Ketika diangkat menggantikan Subagyo itu Prabowo adalah Komandan yang ke-15 di pasukan elit TNI AD itu.

Diangkatnya Prabowo menjadi Komandan Kopassus pertengahan Nopember 1995, dan dinaikkan pangkat dari Kolonel menjadi Brigadir Jenderal, ia menjadi lulusan Akademi Militer Nasional 1974 pertama yang meraih status perwira tinggi.

Menurut KSAD R. Hartono, banyak alasan yang mendukung promosi Prabowo ini. "Dia dinilai sebagai perwira yang paling sesuai atau paling tepat dari perwira lain yang juga sesuai," kata R. Hartono. Penilaiannya dilakukan oleh sebuah dewan khusus dan dibahas oleh Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi. "Saya tidak melebih-lebihkan, tapi kenyataan menunjukkan bahwa jabatan Dan Kopassus, dari semua calon yang ada, dinilai paling tepat diserahkan kepada Prabowo."

Sebagai militer, ia tetap mewarisi 'tradisi' intelektual keluarga ayahnya. Prabowo kabarnya termasuk paling rajin membaca. Di tempat kerja maupun di rumahnya selalu tersedia koleksi buku-buku yang kebanyakan tentang sejarah dan militer. Soalnya, ia punya kegemaran belanja buku kalau sedang bepergian ke luar negeri.

Ia juga memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki prajurit pada umumnya, yaitu penguasaannya terhadap bahasa asing. Tak tanggung-tanggung, Prabowo menguasai empat bahasa asing (Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda). Maklum, masa kecilnya memang banyak di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Hong Kong, Swiss, dan Inggris, mengikuti orangtuanya yang memang banyak bertugas di luar negeri.

Pengalaman pendidikan kemiliterannya juga bertambah. Di antara yang penting adalah pendidikan perang khusus di AS dan latihan khusus antiteroris di Jerman.

Sejak menjadi Wakil Komandan Kopassus, aktifitas ayah seorang anak ini di luar tugas keprajuritan makin kentara. Misalnya ia pun tak segan tampil di depan publik dan diliput media massa dalam kegiatannya selaku Ketua Majelis Pertimbangan Keluarga Mahasiswa Alumni Penerima Beasiswa Supersemar.

SWD
source: PWD

Kapal Bersayap Hasil Riset BPPT



Jakarta, Kompas - Hasil riset rancang bangun Kapal Bersayap WiSE-8, sarana transportasi air antarpulau yang mampu terbang dengan ketinggian khusus 1-3 meter di atas permukaan air oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT, dipesan investor. Hal ini bagian dari Program Pendamping Entrepreneurship atas prakarsa Ciputra—penerima gelar Perekayasa Utama Kehormatan BPPT.

”Prototipe Kapal Bersayap WiSE-8 (Wing in Surface Effect-8) yang sudah diuji berkapasitas delapan tempat duduk. Sementara pesanan investor itu 22 tempat duduk,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wahono Sumaryono, Jumat (7/11) di Jakarta.

Wahono mengatakan, keterbatasan tempat duduk pada Kapal Bersayap WiSE-8 hanya karena persoalan efisiensi dana riset. ”Saat ini masih dibahas mengenai kebutuhan investasi untuk mengembangkan kapal bersayap dengan 22 tempat duduk. Investor itu bersedia mendanainya,” kata Wahono, yang memprediksikan riset pengembangannya dapat diselesaikan dalam setahun.

Efek pemampatan

Kapal Bersayap WiSE menggunakan teknologi pemanfaatan efek pemampatan udara permukaan yang terjadi pada obyek yang terbang rendah. Kecepatan terbang Kapal Bersayap WiSE-8 maksimal 80 knot atau berkisar 144 kilometer per jam, dan tidak butuh landasan terbang di darat.

Pada Oktober 2007, Kapal Bersayap WiSE-8 model Belibis NA 5 dan NA 6 berhasil diujiterbangkan di Waduk Jatiluhur, Jabar.

Secara terpisah, Ciputra mengemukakan, komitmen memesan Kapal Bersayap itu hasil pertemuan para pengusaha dengan BPPT di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (6/11). Pada pertemuan itu hadir sekitar 20 anggota Ernst & Young Entrepreneur of The Year Academy Indonesia Chapter.

Kesepakatan itu antara lain sama riset BPPT dengan PT Martina Berto mengembangkan riset alat ekstraksi minyak aroma herbal, riset pengembangan kantong aspal yang tahan sampai suhu 120 derajat Celsius antara BPPT dan PT Jaya Trade Indonesia.

”Saya hanya connector (penghubung) antara inventor (BPPT) dengan investor, bukan yang turut menandatangani kesepakatan untuk kerja sama riset tersebut,” ujar Ciputra, menyinggung pemberitaan sebelumnya, Kompas, (7/11), yang menyebutkan, ”Ciputra Grup mengharapkan riset kantong aspal....” (NAW)
source :kompas

mengenal paskhas


Sejarah Paskhas sebagai pasukan payung pertama hampir setua Republik Indonesia ini. Operasi penyusupan lewat udara oleh 14 paratroops pada 17 Oktober 1947 di Kotawaringin, Kalimantan, ditandai sebagai hari keramat kelahiran Paskhas.

Di awal usia TNI AU (lahir 9 April 1946), pasukan payung ini disebut Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). April 1952, kekuatan AURI diperkuat dengan dibentuk lagi Pasukan Gerak Tjepat (PGT).

Hingga pada tahun tersebut, pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara). Lebih lanjut pada 15 Oktober 1962, dibetuk Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU) yang membawahi resimen PPP dan PGT. Pergantian KOPPAU menjadi Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Tjepat) disahkan pada 17 Mei 1966. Saat itu kekuatan Kopasgat mencapai tiga resimen (Bandung, Jakarta, Surabaya). Adapun perubahan menjadi Pusat Pasukan Khas disahkan pada 11 Maret 1985 sebelum akhirnya menjadi Korpaskhasau lewat Surat Keputusan Panglima ABRI tertanggal 7 Juli 1997.

Paskhas saat ini berkekuatan 3.000 personel. Terbatasnya dukungan dana dari pemerintah memang jadi kendala untuk memodernisasi Paskhas. Dari segi persenjataan saja, prajurit Paskhas hanya mengandalkan persenjataam macam senapan serbu SS-1 dan senapan mesin ringan Scorpion sebagai perlengkapan unit anti teroris Detasemen Bravo.
Namun begitu, rencana mengembangkan Paskhas menjadi 10 Skadron dengan jumlah personel dua kali lipat dari sekarang, tetap menjadi 'energi' bagi Paskhas untuk terus membenahi diri. Setidaknya sampai saat ini, pola penempatan Paskhas masih mengikuti pola penggelaran alutsista TNI AU, dalam hal ini pesawat terbang. Dengan kata lain, di mana ada skadron udara, di situ (idealnya) mesti ada skadron Paskhas sebagai unit pengamanan pangkalan.
source: mengenal paskhas

Sayap Buatan untuk Pasukan Khusus


Akurat, kedap suara dan tersembunyi.
Terbetik berita, bahwa sayap keras yang memiliki fungsi tersembunyi ini khusus dikembangkan oleh perusahaan ESG Jerman untuk pasukan khusus. Sayap yang diciptakan ini mirip dengan sepasang sayap pesawat selebar 6 kaki, dapat memungkinkan penerjun meluncur atau terbang dengan kecepatann maksimum 120 mil/jam, dan dapat mengangkut peralatan seberat 200 pon.

Produsen sayap buatan ini menyebutkan, bahwa sayap ESG memiliki kemampuan “100 % kedap suara”, “sangat sulit” dilacak oleh radar. Dan menurut penuturan ESG, bahwa pada pengembangan berikutnya sayap itu akan “dipasang suatu alat turbojet kecil”, dengan maksud lebih memperluas jangkauan geraknya.

Seorang pelopor terjun bebas asal Austria pernah mendemonstrasikan teknik yang menakjubkan ini. Dia terjun dari atas pesawat pada ketinggian 3000 mil di angkasa, dan 12 menit kemudian mendarat dengan selamat di dekat kota pelabuhan utara Perancis.

Ketika itu dia mengenakan setelan kinetik udara, memikul dan menambatkan sebuah sayap selebar 6 kaki, dia terbang melintasi laut dengan kecepatan 220 mil/jam, dan setiap maju 6 kaki di angkasa dia meluncur turun 1 kaki secara vertical. Saat berjarak di ketinggian 1000 kaki dari permukaan bumi, dia membuka parasutnya dan mendarat dengan selamat.

Pasukan khusus semakin kuat
Kini, para ilmuwan menyadari sayap kontak ini memiliki “potensi yang penting” dalam melaksanakan misi rahasia militer. Saat ini, pasukan khusus seperti angkatan udara kerajaan Inggris (SAS) masih mengandalkan berbagai macam teknik terjun payung, yaitu saat mendarat di posisi belakang musuh mungkin harus menerjunkan pasukannya melalui helikopter.

Dengan penggunaan sayap buatan ini, pasukan khusus yang memakai “sayap kontak” model ikat ini bisa diterjunkan ke daerah belakang musuh dengan lebih mudah. Sayap tunggal yang berserat karbon ringan ini dapat menerjunkan pasukan khusus dari ketinggian, meluncur dengan kecepatan 120 mil/jam, dapat mendarat dengan aman dalam keadaan nyaris tidak akan diketahui musuh.

Dengan bantuan persediaan oksigen, alat stabilisasi dan navigasi, pasukan khusus yang memakai sayap tetap ini dapat terjun ke daerah yang agak jauh dari garis musuh atau terjun dari atas sebuah pesawat angkut dari atas. Lagipula, pesawat bisa terbang mengikuti jalur penerbangan niaga, bisa terhindar dari pengamatan atau dicurigai musuh. Karena pesawat dapat terbang di luar jarak target musuh, sehingga dengan demikian, pasukan-pasukan khusus yang memakai “sayap kontak” yang didrop atau diterjunkan ini sangat aman.

source by :militer

EWP (Extreme WEapon Protectant)

Extreme Weapon Protectant (EWP)

EWP is new technology recently introduced to the market. It was initially developed to withstand the high heat and high loads of a 50 Cal. automatic weapon. We apply the ceramic coating using the same proprietary process used when processing Stealth-Tech. The EWP finish is harder and 60% more abrasion resistant than the polymer coating. As previously stated, it will withstand higher temperatures up to 1200 °F without delimitation. It is strongly recommended for automatic weapon barrels, flashes suppressors and vented barrels or vented choke tubes.

As the ceramic coating does not have a dry film lubricant, when processing parts we do not use the ceramic coating on the internal portions. For internal protection and lubricity, we apply our Stealth-Tech process. The ceramic is applied to external parts only.

The ceramic raw material cost up to 4 times more that polymer raw material and the curing cycle is twice as long. Therefore EWP is about $20.00 more than Stealth-Tech.

EWP is available it Black, Forest Green and Desert Tan.
source by topgun